Pages


Nama   : Fani Anggita
NIM   
                                                Tantangan Mahasiswa di Era Milenial
            Mahasiswa adalah orang yang resmi belajar dan terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi baik perguruan tinggi berstatus swasta maupun negeri. Di berbagai sejarah, mahasiswa mengambil peran penting dalam suatu negara. Sebagai contoh Di Indonesia pada tahun 1998 atau dikenal dengan istilah Reformasi 1998.
Menurut Kasubdit Penalaran dan Kreativitas Kemenristekdikti Misbah Fikrianto pada acara seminar nasional di Gedung Ristek Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Senin (12/11/2018) mengatakan jumlah mahasiswa Indonesia pada tahun 2018 mencapai 7,5 juta orang yang dimana hal ini merupakan jumlah yang masih kecil dibanding dengan usia pendidikan di Indonesia. Ia menjelaskan juga bahwa Presidden Joko Widodo telah mencanangkan investasi sumber daya manusia (SDM). ini akan menjadi peluang strategis kampus perguruan tinggi untuk berinvestasi dalam hal ini adalah mahasiswa untuk kemajuan bangsa dan negara. Dengan demikian mahasiswa sebagai sumber daya manusia yang “langka” diharapkan mempunyai pengetahuan yang luas dan mempunyai kemampuan, visi, dan karakter yang lebih maju daripada masyarakat pada umumnya. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk berprestasi di bidang akademik tetapi juga harus bisa kritis dan dewasa dalam berpikir maupun melakukan setiap tindakan.
Saat ini di seluruh dunia sedang menghadapi suatu generasi yang disebut Generasi Milenial. Istilah Generasi Milenial diciptakan oleh penulis sekaligus ahli sejarah asal Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam buku mereka Generations: The History of America's Future Generations, 1584 to 2069 (1991) dan Millennials Rising: The Next Great Generation (2000). Mereka menciptakan istilah ini pada tahun 1987 di saat anak-anak yang lahir pada tahun 1982 masuk pra-sekolah, saat itu juga media mulai menyebut sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru di saat lulus SMA pada tahun tahun 2000. Generasi Milenial saat ini sangat mahir dalam menggunakan teknologi dikarenakan mereka lahir pada saat teknologi mulai diperbaharui seperti telepon ke handphone, TV yang sudah berwarna dan tambah tipis, dari komputer menjadi laptop bisa dibawa kemanapun, dan mempunyai kebiasaan dan karakter sendiri dari generasi lainnya.
Pada tahun 1998 keadaan Indonesia pada saat itu dihadapkan dengan pengucuran deras kredit perbankan yang menyebabkan inflasi tinggi serta harga minyak dunia yang anjlok. Hal itu membuat Pemerintahan Soeharto dianggap terlalu berpihak pada investor asing. Demikianlah membuat para mahasiswa pada jaman itu mempunyai pikiran kritis dan sadar bahwa ada yang tidak benar dalam pemerintahan itu. Dengan berbagai gerakan mahasiswa yang ada pada akhirnya di pertengahan Mei 1998 berawal dari penembakan 4 mahasiswa Trisakti di kampusnya, memicu kerusuhan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Rentetan peristiwa ini akhirnya membuat pemimpin pemerintahan 32 tahun berkuasa, Soeharto tumbang.
Pada saat era milenial ini para mahasiswa milenial sering dihadapkan dengan pernyataan mahasiswa jaman sekarang dinilai apatis,mahasiswa yang buta politik, mahasiswa yang beda sekali dengan mahasiswa angkatan 98 yang dinilai mampu merubah keadaan Indonesia pada saat itu. Hal yang wajar jika mahasiwa era Orde Baru berpikir kritis dengan cara demo besar-besaran dan turun ke jalan, dikarenakan oada jaman itu pemerintahan cenderung otoriter dan teknologi belum secanggih daripada jaman sekarang. Kita tidak bisa mengatakan bahwa mahasiswa milenial itu lemah tidak kritis dibanding mahasiswa generasi sebelumnya karena dunia itu dinamis, permasalahan-permasalahan yang dihadapi suatu negara pun akan berbeda-beda.
Mahasiswa milenial saat ini bukan dituntut berpikir kritis dengan cara demo massa turun ke jalan, melainkan mereka dituntut berpikir kritis dengan cara berkarya menciptakan inovasi yang menghasilkan suatu hal yang berguna untuk masyarakat. Tantangan lainnya yaitu mahasiswa bukan sekadar hanya bisa mengkritik namun juga harus bisa menjadi problem solver atau pemecah masalah yang menghadirkan solusi-solusi yang terbaik untuk masalah tersebut.
Mahasiswa berpikir kritis di era milenial dengan cara mau tidak mau harus terlibat dalam fenomena sosial, harus mampu mengimplementasikan segala ilmu yang diddapat dalam perubahan peradaban. Dengan bekal keilmuannya yang mumpuni serta berakhlak mulia, berbagai pemasalahan yang dihadapi saat ini harus sudah menjadi makanan empuk bagi mahasiswa dengan kreatifitas penyelesaian masalah oleh mahasiswa.
Mahasiswa milenial berpikir kritis juga bisa dengan degradasi akhlak seperti kasus korupsi, kolusi, nepotisme, pemerkosaan, pembunuhan, dsb. Dalam hal hal ini mahasiswa harus menjaga moral,akhlak, dan etika secara turun temurun yang telah menjadi identitas bangsa ini. Selain itu berpikir kritis milenial mahasiswa jangan sampai diperbudak oleh teknologi yang semakin canggih, maka dari itu kita sebagai mahasiswa milenial harus menguasai teknologi tersebut secara positif dan digunakan dengan sebagaimana mestinya.
Pada akhirnya kita sebagai generasi milenial dan juga mahasiswa milenial berharap, mahasiswa milenial dapat berkembang dan berpikir kritis dalam cara mereka sendiri dan mampu menghadirkan calon-calon penerus bangsa untuk kepentingan bersama.



Diketik oleh Fani Anggita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com