Pages

 UAS Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Fani Anggita

19413244007

Pendidikan Sosiologi B 2019


                                            Kajian Fenomena Sosiologis Wisata Malioboro

Sumber: https://www.kibrispdr.org/foto-jalan-malioboro-yogyakarta.html

Konsep dari pariwisata yaitu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh manusia dimulai sejak peradaban yangditandai dengan perilaku manusia yang melakukan ziarah dan perjalanan agama. Selain kegiatan keagamaan, pariwisata muncul atas aktivitas perjalanan dagang dengan kapal di berbagai daerah yang membuat munculnya berbagai destinasi dan daerah yang sebelumnya belum pernah dikunjungi. Perkembangan pariwisata didasari oleh gerakan manusia dalam mencari sesuatu yang belum diketahui untuk mendapatkan perjalanan baru. Pariwisata merupakan kegiatan manusia yang bertujuan untuk rekreasi, hiburan, dan penyegaran fisik dan psikis dengan melakukan kunjungan wisata di berbagai daerah. Menurut UU No. 10 Tahun 2009 Pasal 1 ayat (3) Tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah kegiatan yang didiukung oleh berbagai fasilitas dan layanan yan didukung oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah.

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi yang terletak di Pulau Jawa yang masih memegang kebudayaan Jawa. Keunikan dari kebudayaan itulah yang membuat Yogyakarta memiliki tujuan pariwisata yang unik dan menarik. Terdapat tujuan wisata di Yogyakarta mulai dari wisata alam, wisata sejarah, wisata buatan. Tujuan-tujuan wisata tersebut contohny adalah Candi Prambanan, Candi Sewu, Benteng Vredeburg, Keraton Kasultanan, Museum Sonobudoyo, Gunung Merapi, Hutan Pinus Mangunan, Pantai Indrayanti, Pantai Parangtritis, Malioboro, dan masih banyak lagi. Malioboro merupakan tujuan wisata yang terkenal bagi para turis local maupun Internasional jika berkunjung ke Yogyakarta. Malioboro merupakan Kawasan yang terletak di jantung Kota Yogyakarta dimana disana terdapat tujuan wisata berupa area berbelanja modern dan tradisional. Di Kawasan Malioboro terdapat Kawasan berbelanja modern berupa Mall Malioboro dan Kawasan berbelanja tradisional berupa pasar dan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjajakan jualan barang berupa pakaian batik, blangkon, kaos,  souvenir, dan barang berupa makanan tradisional dan lain lain. Selain itu di Kawasan Malioboro wisatawan dapat menikmati perjalanan Kota Yogyakarta dengan menggunakan becak atau andong yang disediakan oleh para penjaja transportasi andong dan becak bapak-bapak yang juga dapat digunakan sebagai arahan untuk menuju penginapan. Kawasan Malioboro hadir untuk wisatawan untuk menyuguhkan lokasi wisata berdasarkan perdagangan dan jasa. Produk dagangannya pun relative berebeda satu sama lain.

Kajian Fenomena Sosiologi dari tujuan wisata Malioboro ini bertujuan untuk mengetahui perubahan sosial, interaksi sosial, dan konflik sosial masyarakat yang berada pada daerah wisata tersebut. Kajian fenomene sosiologi ini bertujuan untuk mengetahui situasi masyarakat sekitar tujuan wisata Malioboro bagaimana mereka melakukan kegiatan di tujuan wisata tersebut. Kegiatan pariwisataselain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar juga provinsi, dengan kajian ini dapat diketahui kegiatan sosiologis apa saja yang dilakukan masyarakat sekitar Malioboro.

Perubahan Sosial di  Tujuan Wisata Malioboro

Perubahan sosial merupakan perubahan umum yang terjadi dalam kehidupan manusia  yang terjadi karena perubahan struktur sosial suatu individu, hubungan sosial, fungsi struktur sosial pada masyarakat. perubahan ini merupakan gejala wajar dalam kehidupan manusia, karena manusia dengan sendirinya akan melakukannya gerakan yang menyebabkan adanya perubahan. Perubahan yang terjadi tersebut akan selalu mengikuti kehidupan manusia tanpa henti dan akan terjadi sepanjang hayat manusia.

Wisata Malioboro yang menjadi tujuan wisata terkenal di Yogyakarta sebagai wisata hiburan, wisata belanja, wisata sejarah ini tentu meberikan perubahan sosial ekonomi kepada msayarakat di sekitar tujuan wisata. Para pedagang yang berada di lokasi wisata terdapat pedagang local dan pedagang luar daerah yang menjajakan produk-produknya. Dengan adanya lokasi wisata Malioboro dapat meningkatkan penghasilan para pedagang di sekitar lokasi. Malioboro memiliki fasilitas didalamya untuk masyarakat agar memiliki perkembangan penghasilan. Di sekitar Malioboro sudah tersedia hotel atau penginapan sebagai sarana wisata dalam menunjang aktivitas wisatawan. Hal itu tentu dapat terjadi perubahan sosial ekonomi masyarakat sebagi agen akomodasi atau pegawai hotel, penginapan, dan losmen.

Dengan berkunjung ke tujuan wisata Malioboro selain untuk mencari lokasi hiburan bagi fisik dan psikis, juga terdapat dampak lain yaitu bisa menambah pengetahuan yang didapatkan dari para penjual di sekitar malioboro dan penjaja transportasi tradisonal. Bagi wisatawan dan juga masyarakat local adanya lokasi wisata juga sebagai arena dalam mengetahui budaya masing-masing. Pertukaran budaya tersebut tidak serta merta dapat diketahui secara langsung dengan menerapkan budaya yang baru diketahui, namun sebagai aksi minimal dalam menghindari konflik dengan laatr belakang budaya yang berbeda tersebut.. Ketika wisatawan bertemu dengan masyarakat local seperti penjual, tukang parkir, pegawai sebuah toko, satu sama lain akan mengetahui sikap, perilaku, kebiasaan, dan budaya masing-masing lalu saling menghormati karena perbedaan tersebut.

Interaksi Sosial di Tujuan Wisata Malioboro

            Manusia merupakan makhluk yang tidak dapat hidup sendiri dan akan selalu bergantung akan orang lain yaitu dengan miliki kemaampuan untuk berinteraksi dengan manusia lain yang disebut sebagai makhluk sosial. Manusia akan berinteraksi dengan manusia  lain secara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok. Interaksi manusia yang terjalin di daerah wisata Malioboro yaitu individu dengan individu contohnya interaksi penjual dengan penjual, wisatawan dengan penjual atau masyarakat local.

Interaksi yang terjadi pada wisatawan misalnya ketika melakukan kegiatan tawar menawar dengan penjual atau wisatawan mengobrol dengan masyarakat local untuk menanyakan daerah tertentu. Interaksi juga terjadi ketika wisatawan ingin membeli produk atau hal untuk penunjang berwisata seperti interaksi dengan tukang parkir, pembelian tiket serta akomodasi. Interaksi tersebut termasuk ke dalam interaksi yang singkat karena hanya mencapai tujuan transaksi. Wisatawan yang bertemu dengan masyarakat yang bukan sebagai peekerja yang sengaja melakukan kunjungan ke tujuan wisats lalu terjadi interaksi sosial baiik yang sengaja maupun tidak disengaja. Interaksi yang terjadi tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda misalnya berkenalan dengan orang baru, mencari pertemanan, hubungan bisnis, atau untuk mencari pasangan.

Hal-hal tersebut termasuk dalam pelaksanaan interaksi sosial karena kegiatan tersebut mencakup syarat terjadinya interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Kontak yang terjadi antari individu lebih lama dan tinggi jika terdapat motivasi lain selain karena factor transaksi semata dengan dampak interaksi yang dibutuhkan juga berbeda-beda.

Konfli Sosial di Tujuan Wisata Malioboro

            Area wisata Malioboro ini memang menarik untuk dikunjungi wisatawan ketika sedang berada di Yogyakarta. Motivasi para pedagang di sekitar malioboro untuk medapatkan keuntungan juga disambut oleh motivasi wisatawan yang berwisata untuk mencari hiburan juga menambah wawasan merupakan terjadinya interaksi sosial yang saling menguntungkan. Namun dibalik itu semua juga terjadi hal-hal yang membuat masyarakat sedikit mengalami maslaah. Dikutip dari berita online kumparan.com terdapat konflik antara pedagang dengan pemerintah setempat. Konflik yang mendasari hal tersebut adalah terdapat kabar bahhwa para pedagang kaki lima (PKL) akan direlokasi ketempat lain. Hal ini membuat resah para pedagang karena pada tahun 2004 mereka juga pernah direlokasi yang memiliki dampak cukup besar yakni kehilangan para pembeli. Hampir selama empat tahun mereka baru memiliki pelanggan lagi. Lebih mengenaskan yaitu terdapat pedagang sampai meninggal dunia karena menghadapi situasi tersebut.

 

 

Referensi

Oktaviyanti, Sri Safitri. (2013). Dampak Sosial Budaya Interaksi Wisatawan dengan Masyarakat Lokal di Kawasan Sosrowijayan. Jurnal Nasional Pariwisata, Vol.5 No.3.

Galura, Stefanus Rinaldi. (2018). Kawasan Malioboro Sebagai Daya Tarik Wisata Utama Di Yogyakarta. Makalah

Nisa, Ahsanul Fathiyyatun dan Ragil Haryanto. (2014). Kajian Keberadaan Wisata Belanja Malioboro Terhadap Pertumbuhan Jasa Akomodasi Di Jalan Sosrowijayan Dan Jalan Dagen. Jurnal Teknik Pwk, Vol.1 No.3.

Kumparan.com. 2021. Malioboro Tanpa Pedagang Kaki Lima (1): Revisi Lagu 'Yogyakarta' Kla Project.

Link: https://kumparan.com/pandangan-jogja/malioboro-tanpa-pedagang-kaki-lima-1-revisi-lagu-yogyakarta-kla-project-1x2rva1pfx3/full

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com